Oleh: endriadi | 29 Oktober, 2008

The Dwarf, the Boy and The Fattie EX01 : Mr. Nice’s Girls

Pagi itu… aku duduk di halte bus biru, masih setengah jam sebelum bus pertama datang.
Angin pagi yang tak diundang meniup poni rambutku, membuat perasaanku terhempas ke langit biru nan luas.

Tidak lama, fattie datang dan segera duduk di sampingku. Badannya yang besar menghalangi angin pagi yang dingin sehingga aku merasa sedikit lebih hangat. Seperti biasa, ia akan meminjam HPku dan mulai memainkan games-games yang jumlahnya ada 70-an di HPku.

Selagi ia asyik memainkan HPku, aku terus memperhatikan sekitar. Mataku terpaku kepada seorang gadis bertopi yang rambutnya pendek dan memakai jeans ketat. Kalau kuperhatikan, hampir setiap pagi aku melihatnya.

Tetapi, entah mengapa aku tidak berani menyapanya, demikian juga dia. Jantungku berdegup kencang setiap kali ia menatap padaku yang terus memperhatikannya. Cantik, itulah yang ada di pikiranku ketika aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi, tetap saja keberanianku tidak pernah bisa cukup untuk menggerakkan kakiku untuk melangkah dan berkenalan dengannya.

Mungkin bisa dibilang sial, ketika bus biru datang lebih cepat dari biasanya. Tetapi, tidak apa-apa, aku masih tetap bisa melihat gadis itu di lain hari. Mungkin saja hari ini aku belum punya keberanian, tapi siapa yang tahu dengan lain hari.. Mungkin esok, atau lusa salah satu diantara kami mau berkenalan..

Setelah turun dari bus, seperti yang biasa kulakukan, aku duduk di halte bus di depan STT. Fattie juga menemaniku, ia tahu siapa yang kutunggu. Aku menunggu seorang gadis tinggi berambut panjang. Aku masih ingat ketika aku melihatnya pertama kali: Kesan pertama, begitu menggoda… berikutnya.. terserah anda… tapi tidak dengan saya… mataku seringkali mencari-cari dia… di kelas, di kantin, di perpustakaan, di kamar mandi… eh… tidak-tidak, tidak dengan yang terakhir… pokoknya di manapun aku bisa melihatnya, maka aku akan terus memperhatikannya.
Hal yang membuatku terus mengingatnya adalah apa yang ia pakai saat kesan pertama, sebuah kain seukuran taplak meja dipakainya mengerudungi kepalanya. Manis, itulah gambaran hatiku saat itu…

Namun sayang, pagi itu berubah menjadi mengerikan ketika orang yang pertama kali datang bukanlah gadis manis bertaplak meja itu, tetapi… Bookseller… Tukang riba yang selalu menggerotiku… Gadis itu tidak layak disebut gadis… terlalu mengerikan… Setiap kali ia menemukanku, ia akan memanggilku sambil berteriak layaknya penagih hutang, walaupun sebenarnya aku tidak punya hutang dengannya, justru dia punya hutang dendam denganku.
Fattie selalu menggodaku kalau Bookseller selalu melekat denganku, walau itu membuatku jengkel, tapi aku tidak rela senyumku lenyap dari mukaku hanya karena tingkah polah Bookseller yang sangat riskan…

Ketiga gadis yang hadir di hidupku… memberikan mimpi indah, memberikan harapan, dan… mimpi buruk… akankah aku menemukan gadis lain lagi??

Walaupun sebenarnya aku sendiri sudah “punya”…. Hahahaha… :-)

Btw, gue bukan playboy… tapi gue cuman admirer, karena di STT, semua cowo… kalo cewe, paling adanya setengah :-) (kalo si Bookseller sih… cuman sepersepuluh kadar cewenya….)

<<>>


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.