“Cukup!! Gue emang pendek! tapi gw gak bisa tahan lebih dari ini! Ini penghinaan!” Dwarf membanting buku Matakuliah Pembungkus Kacang TanpaLemak (MPKT) di hadapan Fattie yang memasang muka serius. “Yang gue pengan tahu, KENAPA LOE JADI MIHAK BOY??!!”
Iya, memang Fattie kenal Dwarf jauh lebih lama 2 tahun dibanding kenal dengan Boy yang belum setahun pun ia kenal
. Tapi ada sesuatu yang membuat Fattie memihak Boy selain hukum 1234. Tapi, Fattie masih belum mengutarakannya pada Dwarf.
“Kamu lagi, Fattie! Kau belum puas dengan Winner yang mana kamu posesif banget sama dia?’
“Dia udah ga disini…”
“Lantas, kamu bisa membuang begitu aja??!! Teman macam apa kamu ini??!!”
Fattie menatap Dwarf dengan serius, lalu membuang mukanya.
“Ada sesuatu yang kau tidak tahu…”
Setelah Fattie mengucapkannya, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Dwarf yang semakin emosi.
“HEH!! PIKIRAN LOE TUH CUMA LEBAY DOANG YAH????!!!”
Tapi, Fattie terus berlari semakin jauh dari Dwarf yang kemudian pergi ke arah yang berlawanan.
Sore itu, matahari sudah menghilang pada pukul 4 karena cuaca yang mendung. “Kotak Mall” yang ramai tidak mempengaruhi suasana hati Fattie yang mendungnya jauh lebih parah daripada cuaca sore itu.
“Kenapa, Fattie?” tanya Boy kepada Fattie yang terus menundukkan kepalanya.
“Mmmm…..”
>>>Bersambung ke episode 06>>>