……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Aku tidak begitu mengerti apa yang dipikirkan Boy saat bertemu dengan Dwarf…
Namun, aku mencoba mengerti keplegmaannya… Bagiku respon Boy yang begitu ringannya dilontarkan padaku adalah suatu respon yang sebenarnya kuharapkan… Aku seakan-akan hendak memperkenalkan dan menjodohkan Dwarf kepada Boy… tapi lebih dalam lagi… sepertinya aku hanya ingin memperkenalkannya saja… Tidak lebih dari itu.
Kata orang, aku posesif… Itu gak salah… Tapi, itu juga gak bener! Apakah aku sebegitu posesifnya sehingga merenggut kehidupan dan kebebasan Boy?
Apakah kebersamaanku dengannya selama ini menjadi beban baginya? Ataukah aku hanya menjadi batu sandungan dalam kehidupan Boy yang masih bisa terbentang luas? Apa kebersamaanku dengannya adalah kesalahan??
Persahabatan yang SALAH??
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Pagi itu, Fattie sama sekali tidak berbicara kepada siapapun…
Mr. Nice yang ada di sampingya tidak berhasil membuka mulut Fattie yang terbungkam rapat dan
Mr. Nice perlahan mulai panik lantaran raut muka Fattie sama sekali hancur seperti mukanya.
“ada apa sih?”
Fattie hanya menjawab dengan menggeleng.
“Looo? Kenapa sih?”
Sekali lagi Fattie hanya menggeleng. Tidak lama, bus biru yang akan mengantar mereka ke STT tiba dan mereka pun segera naik. Setelah tiba di halte STT, Fattie segera menghilang dari hadapan Mr. Nice. Ia duduk di emperan kelas tempat kuliahnya pagi itu.
Fattie bersandar di pilar besar (karena pilar kecil tidak akan kuat menyangganya) di teras dan terus memandang langit. Tidak lama datanglah Boy menghampirinya.
Dalam beberapa menit yang tenang dan basah (HEH jangan mikir aneh-aneh dulu! Air mata kalee!!), Boy berhasil membuat volume suara Fattie kembali.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Aku ga mau nangis lagi…
Aku mau jadi orang yang berguna bagi kehidupan Boy!
Tidak! Tapi bagi semua ORANG!
Aku akan BERJUANG!!!
>>>Bersambung ke episode 03>>>
Lebay…
Oleh: Partogi on 23 Oktober, 2008
at 1:07 am
betul tuh kata gito…lebay..
hehehe
Oleh: Rianti on 23 Oktober, 2008
at 4:34 pm
remember what i’ve said to 2 b4..
pasir semakin digenggam erat, semakin habis dari tangan..kalo dibiarkan dengan tangan terbuka,,pasirnya tetep di tangan dan ga berkurang kan?
jgn smp trgedi vic terulang lagi..
gw ud ngalamin tuh,,kehabisan pasir di tangan..ud gtu pas bgt lagi wktu itu lagi PA ttg abraham menyerahkan yg plg dikasihi’a (Ishak)..
lsg ujan lokal dh tu kamar gw..abs itu gw lepas dh tuh ap yg plg gw ksihi
lah? analoginya koq jd ttg gw n nogi ya??hahaha…yah scr garis besar,, ad kesamaan dqt lah..
Oleh: Rianti on 23 Oktober, 2008
at 5:01 pm
Ogi dodol.. Yah, lebay memang lebay. Tapi itu kenyataan bahwa kelebayan adalah sesuatu yang belum bisa saya salibkan…
Maaf yah…
Oleh: endriadi on 27 Oktober, 2008
at 8:46 am