Fattie sedikit terkejut dengan reaksi kawannya itu, tetapi karena kebiasaannya yang sedikit buruk, akhirnya Fattie tetap saja mentertawakan Dwarf.
“Hahahaha!! Dia memang pendek sih… tapi kayaknya di foto udah pendek deh… Jangan-jangan dia memendek lagi? Ato aku yang meninggi??”
Boy yang suka meledek segera menjawab reaksi Fattie,
“Yang terakhir kayaknya enggak deh…”
Fattie yang sensitif segera melandaskan tinju empuknya ke bahu Boy yang hanya tertawa karena tinju Fattie tidak pernah full power dan bagaikan pijatan saja.
Setelah semuanya selesai, Fattie mencoba menyampaikan kebenaran kepada Dwarf. Saat itu reaksi Dwarf biasa-biasa saja dan tidak begitu peduli. Fattie lega dengan reaksi Dwarf yang tidak marah terhadap Boy. Mungkin ini pertanda bahwa Dwarf masih membuka hatinya untuk Boy yang memang diakuinya memiliki muka OK.
Hari demi hari berlalu, kesibukan Dwarf sebagai mahasiswa baru STBA membuatnya tidak bisa datang ke STT untuk melihat Boyy sesekali. Walaupun kadang-kadang ia menyempatkan diri datang ke kantin STT, ia hanya bertemu Fattie dengan temannya yang lain, Lugol dan Richer. Sejujurnya Dwarf lebih tertarik kepada Desperado, salah satu anggota geng yang sama yang diikuti Fattie, Boy, Richer dan secara ilegal diketuai Lugol. Akan tetapi entah bagaimana Dwarf tidak pernah berhasil bertemu dengan Desperado yang memang sulit sekali untuk ditemukan bahkan oleh Fattie sekalipun.
Sementara Hari-hari Fattie dan Boy yang santai mulai berganti dengan kesibukan kuliah yang mulai lagi, kesibukan dwarf semakin panas. Namun, sesungguhnya itu tidak berpengaruh terhadap kehidupan Boy dan Fattie. Mereka berdua tetap saja dengan biasa menjalankan hari-hari mereka tanpa dwarf mengganggu.
Kesibukan Dwarf memang akan berakhir, namun kesedihan demi kesedihan akan segera menghampiri kehidupan Dwarf.
>>>Bersambung ke episode 03>>>
Ah,cm memori doang.
Gua pikir bener2 berakhir dengan imajinasi liar.
Gua udah berimajinasi liar nih soalnya..
Kayak..
Si Dwarf saking sakit hatinya terus minum coca-cola sambil nelen mentos yang berakibat fatal. Terus Si Boy (set! Catatan Si Boy??? Onky Alexander doonnggg…) akhirnya ngerasa bersalah dan melakukan hal yang gag kalah fatalnya yaitu makan pisang goreng sambil meroda di tengah jalan tol sambil matanya ditutup sebagai bentuk permintaan maafnya pada Si Dwarf.
Kayak Romeo n Juliet gitu deh, tapi keduanya berakhir di pusat rehabilitasi jiwa karena disangka depresi berat trus gangguan jiwa.
Ide aja sii. (buat penulis dan tokoh2 yang secara sengaja ditulis di dalam kisah yang “bener2 ngga fiktif ini”, maaf ya, namanya juga imajinasi liar..)
Gua pikir begitu.
Oleh: cruppy on 22 Oktober, 2008
at 1:42 pm
Santai crup… baru episode 2… masih kisah nyata… lama-lama imajinasi liarnya masuk juga kok… Sabar ya CRUP…
There’s no History for friendship, for it called Memories…
Oleh: endriadi on 22 Oktober, 2008
at 3:15 pm