Oleh: endriadi | 21 Oktober, 2008

The Dwarf, The Boy and The Fattie 01 : The Beginning

Di tahun 200X, di sebuah sekolah tinggi bahasa asing bertaraf internasional di pinggiran kota, seorang gadis yang postur tubuhnya bisa dikatakan “pendek” -walau tidak sependek orang-orang yang dwarfisme, namun-, sebut saja gadis itu “gadis dwarf”

diterima masuk ke salah satu program pendidikan bahasa asing. Gadis itu akhirnya bisa melanjutkan studinya setelah setahun menganggur akibat over dosis stress yang menyebabkannya banyak pikiran sebelum ujian masuk sekolah tinggi.

Bertetanggaan dengan sekolah internasional itu, ada sebuah sekolah tinggi theologi, eh teknologi yang sangat terkenal seantero negeri. Di sekolah itu, Fattie, teman Dwarf menempuh jenjang pendidikan tingginya semenjak tahun lalu. Di Sekolah yang sama, bersekolahlah seorang lelaki plegma yang selalu diikuti Fattie kemana saja… Pemuda itu bernama Boy.

Fattie yang selalu mengikuti Boy, tidak lupa dengan status Dwarf yang telah berbulan-bulan menjalani masa single, Fattie berniat untuk memperkenalkan Dwarf dengan Boy, teman dekatnya yang selalu diikutinya itu.

“Boy, aku ingin sekali memperkenalkanmu dengan dwarf, karena ia single, 2 Korintus 6 : 14, dan dia serumpun denganmu. Mungkin akan baik bila kukenalkan dia padamu…”
Boy setuju dengan pendapat Fattie itu sehingga Fattiepun memperkenalkan Boy kepada Dwarf melalui foto-foto dan dunia maya. Tetapi, tidak puas dengan ketidaknyataan, maka Fattie berusaha mempertemukan Dwarf secara langsung dengan Boy. Hingga akhirnya tiba satu kesempatan dimana Dwarf dapat dipastikan bertemu dengan Boy.

Sekolah Tinggi Nasional (STN) yang menaungi kedua sekolah teknologi dan sekolah tinggi bahasa asing tersebut melakukan pertukaran mahasiswa baru untuk diorientasikan kepada seluruh lingkungan sekolah tinggi tersebut. Dwarf yang adalah mahasiswa baru tentunya akan ikut dikirimkan ke semua sekolah tinggi yang ada di STN, termasuk ke Sekolah Tinggi Teknologi dimana Fattie dan Boy berada.

ONE NICE CHANCE! Akhirnya Boy yang adalah penerima tamu di sebuah kegiatan Ekskul Religi bertemu dengan Dwarf yang harus mengikuti kegiatan Religi di tempat orientasinya hari itu.
“Hai…” itu saja kalimat yang terucap di mulut seorang Dwarf yang tidak polos dan tidak lugu.
Lebih parah lagi, respon Boy. Ia hanya mengangguk dan segera berpaling begitu saja. Fattie yang sedikit kesal lantas menghampiri Boy.
“Boy, itu dia gadis yang kukenalkan padamu! Kok reaksimu biasa saja?”
Reaksi Boy memang sudah ditebak Fattie dengan sempurna, tapi tetap saja Fattie yang cerewet ingin tahu isi hati Boy yang sebenarnya:
“Kok, kayaknya lebih pendek dari yang ada di foto ya??”
“!!!”

>>>Bersambung ke episode 02>>>


Tanggapan

  1. heh?? kenyataannya ga gitu tuh..

    the boy n the dwarf sm2 menyebutkan nama..tapi krn tmn2 dwarf mengajak dwarf segera masuk ke ruang ekskul religi,,jadi tidak ada percakapan apa2…dan ternyata the boy membicarakan the dwarf di belakang…dan the fattie bukannya membela the dwarf, malah tertawa2 saja..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.