Oleh: endriadi | 19 Mei, 2010

Webgreenmetric 2010

How far your university has contribute to the earth? Check this out on:

www.wgm07.wordpress.com

Webgreenmetric Project Team

Pertama kali saya tahu kuliah Sistem operasi dipindahkan dari tempat seharusnya karena kuliah umum, yang ada di pikiran saya adalah kuliah yang berkaitan dengan basic dari sistem operasi (seperti yang dijanjikan dosen saya). Akan tetapi, hal yang terjadi sungguh berbeda… Wii, ada orang microsoft… ngapain ya??

Awalnya saya agak skeptis: Meski saya pakai vista asli, tapi ngapain ya orang microsoft dateng kesini? ngiklan?? (Pertanyaan yang sangat tidak ada hubungannya secara logika). Sikap saya semakin skeptis ketika sang pembicara mengutarakan rencananya untuk memperkenalkan software MS Visual Studio. Pikir saya: Wah ini benar-benar iklan!

Akan tetapi pandangan saya mulai berubah ketika sang pembicara -yang prefer dipanggil sebagai “Fu”, tanpa pak ataupun mas- mulai membawakan tentang pentingnya efisiensi dalam dunia kerja, khususnya dalam kasus yang diangkat: Software Engineering, dimana ilmu ini masih cukup baru. Apalagi ketika diperkenalkan manajemen yang berbasis IT yang disupport oleh software mutakhir buatan microsoft itu. Rupanya, perkembangan software kelas berat tidak akan mungkin bisa sepesat sekarang tanpa didukung manajemen yang baik dari pengembang-pengembang software.

Hadirnya kedua software yang ada di judul tulisan ini rupanya sangat membantu dalam dunia kerja, khususnya manajemen pengembangan software yang memiliki beberapa karakteristik khusus. Misalnya deadline yang ketat, persaingan antar anggota dalam team, update yang cepat dari anggota team, fleksibilitas serta efisiensi yang sangat diperhitungkan agar tidak banyak cost yang terbuang serta quality monitoring per anggota team yang mudah dilakukan oleh project manager.

WEW, software yang powerful dan useful. tapi lebih dari itu, saya belajar satu hal. DUNIA KERJA adalah DUNIA YANG DINAMIS, dimana EVERYTHING BECOME SERIOUS, dan YOU’RE BEING WATCHED…

Wah, saya harus mulai berlatih untuk bekerja efisien rupanya. lol. XD

Pagi itu… aku duduk di halte bus biru, masih setengah jam sebelum bus pertama datang.
Angin pagi yang tak diundang meniup poni rambutku, membuat perasaanku terhempas ke langit biru nan luas.

Tidak lama, fattie datang dan segera duduk di sampingku. Badannya yang besar menghalangi angin pagi yang dingin sehingga aku merasa sedikit lebih hangat. Seperti biasa, ia akan meminjam HPku dan mulai memainkan games-games yang jumlahnya ada 70-an di HPku.

Selagi ia asyik memainkan HPku, aku terus memperhatikan sekitar. Mataku terpaku kepada seorang gadis bertopi yang rambutnya pendek dan memakai jeans ketat. Kalau kuperhatikan, hampir setiap pagi aku melihatnya.

Tetapi, entah mengapa aku tidak berani menyapanya, demikian juga dia. Jantungku berdegup kencang setiap kali ia menatap padaku yang terus memperhatikannya. Cantik, itulah yang ada di pikiranku ketika aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi, tetap saja keberanianku tidak pernah bisa cukup untuk menggerakkan kakiku untuk melangkah dan berkenalan dengannya.

Mungkin bisa dibilang sial, ketika bus biru datang lebih cepat dari biasanya. Tetapi, tidak apa-apa, aku masih tetap bisa melihat gadis itu di lain hari. Mungkin saja hari ini aku belum punya keberanian, tapi siapa yang tahu dengan lain hari.. Mungkin esok, atau lusa salah satu diantara kami mau berkenalan..

Setelah turun dari bus, seperti yang biasa kulakukan, aku duduk di halte bus di depan STT. Fattie juga menemaniku, ia tahu siapa yang kutunggu. Aku menunggu seorang gadis tinggi berambut panjang. Aku masih ingat ketika aku melihatnya pertama kali: Kesan pertama, begitu menggoda… berikutnya.. terserah anda… tapi tidak dengan saya… mataku seringkali mencari-cari dia… di kelas, di kantin, di perpustakaan, di kamar mandi… eh… tidak-tidak, tidak dengan yang terakhir… pokoknya di manapun aku bisa melihatnya, maka aku akan terus memperhatikannya.
Hal yang membuatku terus mengingatnya adalah apa yang ia pakai saat kesan pertama, sebuah kain seukuran taplak meja dipakainya mengerudungi kepalanya. Manis, itulah gambaran hatiku saat itu…

Namun sayang, pagi itu berubah menjadi mengerikan ketika orang yang pertama kali datang bukanlah gadis manis bertaplak meja itu, tetapi… Bookseller… Tukang riba yang selalu menggerotiku… Gadis itu tidak layak disebut gadis… terlalu mengerikan… Setiap kali ia menemukanku, ia akan memanggilku sambil berteriak layaknya penagih hutang, walaupun sebenarnya aku tidak punya hutang dengannya, justru dia punya hutang dendam denganku.
Fattie selalu menggodaku kalau Bookseller selalu melekat denganku, walau itu membuatku jengkel, tapi aku tidak rela senyumku lenyap dari mukaku hanya karena tingkah polah Bookseller yang sangat riskan…

Ketiga gadis yang hadir di hidupku… memberikan mimpi indah, memberikan harapan, dan… mimpi buruk… akankah aku menemukan gadis lain lagi??

Walaupun sebenarnya aku sendiri sudah “punya”…. Hahahaha… :-)

Btw, gue bukan playboy… tapi gue cuman admirer, karena di STT, semua cowo… kalo cewe, paling adanya setengah :-) (kalo si Bookseller sih… cuman sepersepuluh kadar cewenya….)

<<>>

Oleh: endriadi | 27 Oktober, 2008

The Dwarf, The Boy and The Fattie 05 : Collision

“Cukup!! Gue emang pendek! tapi gw gak bisa tahan lebih dari ini! Ini penghinaan!” Dwarf membanting buku Matakuliah Pembungkus Kacang TanpaLemak (MPKT) di hadapan Fattie yang memasang muka serius. “Yang gue pengan tahu, KENAPA LOE JADI MIHAK BOY??!!”

Iya, memang Fattie kenal Dwarf jauh lebih lama 2 tahun dibanding kenal dengan Boy yang belum setahun pun ia kenal
. Tapi ada sesuatu yang membuat Fattie memihak Boy selain hukum 1234. Tapi, Fattie masih belum mengutarakannya pada Dwarf.

“Kamu lagi, Fattie! Kau belum puas dengan Winner yang mana kamu posesif banget sama dia?’

“Dia udah ga disini…”

“Lantas, kamu bisa membuang begitu aja??!! Teman macam apa kamu ini??!!”

Fattie menatap Dwarf dengan serius, lalu membuang mukanya.

“Ada sesuatu yang kau tidak tahu…”

Setelah Fattie mengucapkannya, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Dwarf yang semakin emosi.

“HEH!! PIKIRAN LOE TUH CUMA LEBAY DOANG YAH????!!!”

Tapi, Fattie terus berlari semakin jauh dari Dwarf yang kemudian pergi ke arah yang berlawanan.

Sore itu, matahari sudah menghilang pada pukul 4 karena cuaca yang mendung. “Kotak Mall” yang ramai tidak mempengaruhi suasana hati Fattie yang mendungnya jauh lebih parah daripada cuaca sore itu.

“Kenapa, Fattie?” tanya Boy kepada Fattie yang terus menundukkan kepalanya.

“Mmmm…..”

>>>Bersambung ke episode 06>>>

Oleh: endriadi | 24 Oktober, 2008

The Dwarf, The Boy and The Fattie 04 : Apology(etika)

“Aku ga terima!!!” seru Dwarf kepada Fattie sore itu. Sore itu mereka berdua pulang bersama setelah pertemuan yang disengaja…
“Ap yang gak kau terima?” tanya Fattie yang sedikit khawatir. “Gebetan udah ada… Mantan udah damai… Temen-temen masih baik kan sama kau? A~pa?”
“itu, kawanmu si Boy! Ia mengataiku PENDEK!!!”
“Itu benar kan?” jawab Fattie sambil menatap Dwarf dari kaki sampai ke kepala. “Sebahu ku pun tidak… Boy itu lebih tinggi dari aku, lantas wajar la pendapat dia seperti itu…”
Rupanya Dwarf marah karena perseteruan itu diawali di dunia maya. Dimana banyak orang bisa melirik setiap komentar yang dituliskan terhadap orang tersebut.
“Kan malu, kalau kita dibilang pendek??”
“Lah… bukannya kalau dibilang tinggi, itu namanya FITNAH???” jawab Fattie dengan santainya, “Kata orang fitnah lebih kejam daripada pembunuhan… Jadi daripada memfitnah mu… sekalian saja kau dibunuh la…”
“Jah.. ga gitu juga… Mending dibilang pendek kemana-mana lah…” jawab Dwarf yang sedikit terkejut dengan respon Fattie yang sepertinya memihak Boy itu.

“Ya udah…”
Pembicaraan hari itu dimenangkan oleh Fattie yang justru semakin interesting dengan relasi yang kacau ini.

“Boy, dia marah tu dibilang pendek…”
“Lah, aku kan mengatakan kebenaran, ‘JIKA YA, HENDAKLAH KAMU KATAKAN: YA, JIKA TIDAK, HENDAKLAH KAMU KATAKAN: TIDAK. APA YANG LEBIH DARI PADA ITU BERASAL DARI SI JAHAT.’

Fattie benar-benar sudah tidak bisa melawan lagi karena prinsip 1234 yang lebih hebat dari ketiga hukum newton!
1. Boy selalu benar
2. Fattie selalu salah
3. Jika Boy salah, kembali ke pasal 1
4. Jika Fattie benar, kembali ke pasal 2
Mungkin kalau dibuat dalam bahasa lain:
{
if (boy==false)
boy = true;
if (fattie==true)
fattie = false;
}
maka, demikianlah disampaikan kepada Dwarf bahwa Boy tidak menarik kata-katanya. Bagi Fattie sendiri itu sudah menjadi suatu kebenaran mutlak yang rupanya sangat ia nikmati.
Dalam kemenangannya Fattie mentertawakan Dwarf yang tidak bisa berapologetik lagi tentang keberadaan dirinya yang memang pendek.

>>>Bersambung ke episode 5>>>

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Aku tidak begitu mengerti apa yang dipikirkan Boy saat bertemu dengan Dwarf…

Namun, aku mencoba mengerti keplegmaannya… Bagiku respon Boy yang begitu ringannya dilontarkan padaku adalah suatu respon yang sebenarnya kuharapkan… Aku seakan-akan hendak memperkenalkan dan menjodohkan Dwarf kepada Boy… tapi lebih dalam lagi… sepertinya aku hanya ingin memperkenalkannya saja… Tidak lebih dari itu.

Kata orang, aku posesif… Itu gak salah… Tapi, itu juga gak bener! Apakah aku sebegitu posesifnya sehingga merenggut kehidupan dan kebebasan Boy?

Apakah kebersamaanku dengannya selama ini menjadi beban baginya? Ataukah aku hanya menjadi batu sandungan dalam kehidupan Boy yang masih bisa terbentang luas? Apa kebersamaanku dengannya adalah kesalahan??

Persahabatan yang SALAH??

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Pagi itu, Fattie sama sekali tidak berbicara kepada siapapun…

Mr. Nice yang ada di sampingya tidak berhasil membuka mulut Fattie yang terbungkam rapat dan
Mr. Nice perlahan mulai panik lantaran raut muka Fattie sama sekali hancur seperti mukanya.

“ada apa sih?”

Fattie hanya menjawab dengan menggeleng.

“Looo? Kenapa sih?”

Sekali lagi Fattie hanya menggeleng. Tidak lama, bus biru yang akan mengantar mereka ke STT tiba dan mereka pun segera naik. Setelah tiba di halte STT, Fattie segera menghilang dari hadapan Mr. Nice. Ia duduk di emperan kelas tempat kuliahnya pagi itu.

Fattie bersandar di pilar besar (karena pilar kecil tidak akan kuat menyangganya) di teras dan terus memandang langit. Tidak lama datanglah Boy menghampirinya.

Dalam beberapa menit yang tenang dan basah (HEH jangan mikir aneh-aneh dulu! Air mata kalee!!), Boy berhasil membuat volume suara Fattie kembali.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Aku ga mau nangis lagi…

Aku mau jadi orang yang berguna bagi kehidupan Boy!

Tidak! Tapi bagi semua ORANG!

Aku akan BERJUANG!!!

>>>Bersambung ke episode 03>>>

Oleh: endriadi | 22 Oktober, 2008

The Dwarf, The Boy and The Fattie 02 : Meetings!

Fattie sedikit terkejut dengan reaksi kawannya itu, tetapi karena kebiasaannya yang sedikit buruk, akhirnya Fattie tetap saja mentertawakan Dwarf.
“Hahahaha!! Dia memang pendek sih… tapi kayaknya di foto udah pendek deh… Jangan-jangan dia memendek lagi? Ato aku yang meninggi??”
Boy yang suka meledek segera menjawab reaksi Fattie,

“Yang terakhir kayaknya enggak deh…”
Fattie yang sensitif segera melandaskan tinju empuknya ke bahu Boy yang hanya tertawa karena tinju Fattie tidak pernah full power dan bagaikan pijatan saja.

Setelah semuanya selesai, Fattie mencoba menyampaikan kebenaran kepada Dwarf. Saat itu reaksi Dwarf biasa-biasa saja dan tidak begitu peduli. Fattie lega dengan reaksi Dwarf yang tidak marah terhadap Boy. Mungkin ini pertanda bahwa Dwarf masih membuka hatinya untuk Boy yang memang diakuinya memiliki muka OK.

Hari demi hari berlalu, kesibukan Dwarf sebagai mahasiswa baru STBA membuatnya tidak bisa datang ke STT untuk melihat Boyy sesekali. Walaupun kadang-kadang ia menyempatkan diri datang ke kantin STT, ia hanya bertemu Fattie dengan temannya yang lain, Lugol dan Richer. Sejujurnya Dwarf lebih tertarik kepada Desperado, salah satu anggota geng yang sama yang diikuti Fattie, Boy, Richer dan secara ilegal diketuai Lugol. Akan tetapi entah bagaimana Dwarf tidak pernah berhasil bertemu dengan Desperado yang memang sulit sekali untuk ditemukan bahkan oleh Fattie sekalipun.

Sementara Hari-hari Fattie dan Boy yang santai mulai berganti dengan kesibukan kuliah yang mulai lagi, kesibukan dwarf semakin panas. Namun, sesungguhnya itu tidak berpengaruh terhadap kehidupan Boy dan Fattie. Mereka berdua tetap saja dengan biasa menjalankan hari-hari mereka tanpa dwarf mengganggu.

Kesibukan Dwarf memang akan berakhir, namun kesedihan demi kesedihan akan segera menghampiri kehidupan Dwarf.

>>>Bersambung ke episode 03>>>

Oleh: endriadi | 21 Oktober, 2008

The Dwarf, The Boy and The Fattie 01 : The Beginning

Di tahun 200X, di sebuah sekolah tinggi bahasa asing bertaraf internasional di pinggiran kota, seorang gadis yang postur tubuhnya bisa dikatakan “pendek” -walau tidak sependek orang-orang yang dwarfisme, namun-, sebut saja gadis itu “gadis dwarf”

diterima masuk ke salah satu program pendidikan bahasa asing. Gadis itu akhirnya bisa melanjutkan studinya setelah setahun menganggur akibat over dosis stress yang menyebabkannya banyak pikiran sebelum ujian masuk sekolah tinggi.

Bertetanggaan dengan sekolah internasional itu, ada sebuah sekolah tinggi theologi, eh teknologi yang sangat terkenal seantero negeri. Di sekolah itu, Fattie, teman Dwarf menempuh jenjang pendidikan tingginya semenjak tahun lalu. Di Sekolah yang sama, bersekolahlah seorang lelaki plegma yang selalu diikuti Fattie kemana saja… Pemuda itu bernama Boy.

Fattie yang selalu mengikuti Boy, tidak lupa dengan status Dwarf yang telah berbulan-bulan menjalani masa single, Fattie berniat untuk memperkenalkan Dwarf dengan Boy, teman dekatnya yang selalu diikutinya itu.

“Boy, aku ingin sekali memperkenalkanmu dengan dwarf, karena ia single, 2 Korintus 6 : 14, dan dia serumpun denganmu. Mungkin akan baik bila kukenalkan dia padamu…”
Boy setuju dengan pendapat Fattie itu sehingga Fattiepun memperkenalkan Boy kepada Dwarf melalui foto-foto dan dunia maya. Tetapi, tidak puas dengan ketidaknyataan, maka Fattie berusaha mempertemukan Dwarf secara langsung dengan Boy. Hingga akhirnya tiba satu kesempatan dimana Dwarf dapat dipastikan bertemu dengan Boy.

Sekolah Tinggi Nasional (STN) yang menaungi kedua sekolah teknologi dan sekolah tinggi bahasa asing tersebut melakukan pertukaran mahasiswa baru untuk diorientasikan kepada seluruh lingkungan sekolah tinggi tersebut. Dwarf yang adalah mahasiswa baru tentunya akan ikut dikirimkan ke semua sekolah tinggi yang ada di STN, termasuk ke Sekolah Tinggi Teknologi dimana Fattie dan Boy berada.

ONE NICE CHANCE! Akhirnya Boy yang adalah penerima tamu di sebuah kegiatan Ekskul Religi bertemu dengan Dwarf yang harus mengikuti kegiatan Religi di tempat orientasinya hari itu.
“Hai…” itu saja kalimat yang terucap di mulut seorang Dwarf yang tidak polos dan tidak lugu.
Lebih parah lagi, respon Boy. Ia hanya mengangguk dan segera berpaling begitu saja. Fattie yang sedikit kesal lantas menghampiri Boy.
“Boy, itu dia gadis yang kukenalkan padamu! Kok reaksimu biasa saja?”
Reaksi Boy memang sudah ditebak Fattie dengan sempurna, tapi tetap saja Fattie yang cerewet ingin tahu isi hati Boy yang sebenarnya:
“Kok, kayaknya lebih pendek dari yang ada di foto ya??”
“!!!”

>>>Bersambung ke episode 02>>>

Oleh: endriadi | 20 Oktober, 2008

About The Dwarf, the Boy and the Fattie

Pertama-tama, saya memohon maaf untuk pihak-pihak yang diimplementasikan namanya dalam cerita ini. Pemberitahuan selanjutnya adalah… Blog ini bukan bercerita tentang dongeng, tetapi kisah relasi aneh yang terjadi di antara ketiga orang yang akan diceritakan disini…

Begini ringkasan ceritanya…
Dwarf adalah seorang gadis tidak polos dan tidak lugu yang sedang tidak mencari cinta… tetapi tidak ada seorangpun gadis di dunia ini yang ingin hidup sendiri saja… Suatu hari Dwarf yang adalah kawan dari Fattie, diperkenalkan dengan kawan Fattie yang selalu diikutinya sepanjang hari.

pria yang dikenalkan Fattie pada Dwarf adalah Boy.
Boy adalah orang plegma yang agak sinis terhadap orang lain. Walau itu adalah bercanda. Meski menurut banyak orang Boy adalah cowok idaman gadis, namun Boy selalu rendah hati… Ia tidak pernah memuji dirinya sendiri. Berbeda dengan Fattie, yang walau dengan ketidakproporsionalannya tetap saja menjadi pengikut narcissus…

Suatu hari dalam suatu momen, Boy bertemu dengan Dwarf. Namun, komentar Boy pertama kali tentang Dwarf disampaikannya kepada Fattie, kawannya itu.
Begini katanya…
“Kayaknya lebih pendek daripada yang ada di foto ya?”
Fattie hanya bisa tertawa dan terus tertawa. Fattie tidak bisa berbohong, dia terlalu jujur dan ekspresif… Maka, kata-kata itupun sampai ke telinga dwarf… Awalnya dwarf tidak memasukkan itu ke hati. Karena wajar saja. itu first sight effect…

Oke, kejujuran yang utama…
Pertikaian selanjutnya berlangsung di dunia maya…
Boy yang jujur orangnya – itu yang membuat fattie suka dengannya dan mau mengikutinya ke mana saja asal tidak berlebihan – lantas meyatakan ke-pendek-an dwarf di dunia maya. Suatu reaksi yang wajar jika dwarf merasa tersinggung, walau tetap dalam nuansa perdamaian…

Salam.pertikaian… itulah kata-kata yang dilemparkan oleh dwarf kepada boy… Boy yang sangat plegma semakin memanas-manaskan suasana.

Ikuti kisah “The Dwarf, the Boy and The Fattie” hanya di endriadi.wordpress.com!!

Oleh: endriadi | 10 Oktober, 2008

Misteri Buku Hijau – Adi@WAM POFTUI 08

Judulnya kayak gimana gitu.. tapi sebenarnya ini cuma hal bodoh yang paling aku ingat tentang kebodohan dan kekanak-kanakannya diriku…

Siang itu, matahari tidak begitu menyengat dan suhu udara cukup nyaman dan sesuai untuk tidu siang dengan jendela terbuka… Akan tetapi, jika siang itu adalah siang bersama teman-teman di tempat yang cukup jauh dari rumah… rasanya sayang jika pemuda-pemuda yang bersemangat hanya memilih untuk mengambil bantal dan meletakkan kepala..

Ya… memang tidak terjadi yang demikian bagiku dan teman-teman… Hal yang kami lakukan adalah bersenda gurau dan bermain permainan favorit kami… capsa… Namun, hari itu aku tidak begitu tertarik untuk bermain… karena ada seseorang yang sangat serius membaca sebuah buku hijau hardcover… seseorang yang memang akan selalu kulihat kapanpun bisa kulihat…

Keingintahuanku melonjak ketika togi tidak mau menunjukkan isi buku itu padaku… Mmm… hal yang tidak ada di kamusku… menyerah dalam keingintahuan (baca: penasaran)!!

Oke, aku mengaku bahwa kalian harus lebih hati-hati jika bertemu deganku… Hati-hati meletakkan barang yang kau rahasiakan dariku.. karena tanganku cukup licin… tapi ternyata togi jauh lebih jago dari yang saya kira…

Walaupun dengan berbagai sandiwara dan tangan licin, buku hijau itu tetap tidak bisa kudapatkan… paling banter aku pegang, tapi togi masih menahan dengan kuat! Pertarungan laki-laki!!!

Haaah… sudahlah… aku hendak mengalah… tapi, kupikir akan ada kesempatan yang lebih bagus…

Oke, togi pun masuk ke kamar dan – katanya sih – tidur… Namun, sekali lagi… aku bukanlah orang yang bisa berkata menyerah begitu mudahnya…

NINJA PLAY DIMULAI!!!

Aku yang badannya besar ini (W=10-piiip- kg, H=180cm) dengan tenangnya menyelinap ke dalam balkon kamar togi yang memang berhubungan dengan balkon tempat kami bermain sebelumnya… dengan perlahan, aku masuk ke dalam ruang tv di samping ruang tidur… Kemudian, aku merangkak dan dengan perlahan mendekati ranjang togi, hendak mencuri buku hijau yang asti diletakkan di dekat tubuhnya…

Ketika aku hampir sampai di bawah ranjang, togi menatapku dengan tatapan culasnya…

“Ngapain sih, Di…”

Dalam pikiranku: SIAL! Padahal sedikit lagi!!!

Akupun berdiri dan dengan tertawa garing mengakui apa yang hendak kuperbuat. Togi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunjukkan buku hijau itu padaku dan meletakkannya di atas ranjangnya kemudian menidurinya sambil tertawa culas…

Namun, kemudian suatu pernyataan pun keluar dari mulut togi… “Ini buku curhatan adikku…”

Lalu, kupikir… OK… Itu memang cukup konfidensial… tetapi kenapa dia nggak bilang dari awal…

JADI SEMAKIN MENCURIGAKAN!!!

Tapi… ya sudahlah… lagipula… aku tidak mau mengganggu togi yang tampaknya benar-benar mengantuk…
Karena itu juga, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di ranjang di samping togi…

Satu jam kemudian, sesuai permintaannya, aku membangunkan togi.. lalu pernyataan lain ia keluarkan kali ini…

“Ini bukunya bang dragon… kalo mao baca… nih…”

Dengan entengnya dia memberikan buku itu padaku?? Jadi selama ini dia cuma ingin main-main denganku?? Mempermainkanku dan mentertawaiku?? HUH!!! Tapi… kupikir… hal-hal seperti inilah yang aku butuhkan! ketika aku bisa melakukan sesuatu hal seperti ini dengan orang yang aku kasihi… hahaha… mulai deh…

Aku memang membaca buku itu dan tidak mengerti… Kata togi, buku itu berisi banyak hal… tetapi tidak satupun aku bisa mengerti… lebih mirip buku curhat…

AAAARRRGHH!!!! AKU TIDAK PERCAYA!!!

Pada akhirnya… buku itu tetap menjadi buku hijau yang misterius…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.